Fanfiction: DREAMS [Ep 4]

“Apa yang kau katakan barusan?” tanya Sena pada Ray yang sedang menutup mulutnya.

“Bukan apa-apa. Aku hanya baca judul buku itu.” bohong Ray sambil menunjuk judul buku yang kebetulan sama dengan apa yang ia katakan.

“Hmm… baiklah aku akan pergi dulu.. bye~” ucap Sena sambil pergi meninggalkan Ray.

“Apa yang tadi aku katakan? Dasar kau ini bodoh Ray!” ucap Ray pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya.

“Mengapa jantungku berdetak sangat kencang jika berhadapan dengannya?” sambungnya lagi sambil memegang dadanya.

Pelajaran pun dimulai. Seperti biasa pak Kim menerangkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan menyanyi. Kali ini, ia memutarkan sebuah video cara mengatur napas saat bernyanyi.

“Apa Hiran tidak masuk hari ini?” tanya pak Kim yang melihat bangku Hiran kosong.

“Dia pergi berlatih dengan bu Kim.” ujar Sena.

“Ohh.. begitu.. Yasudah. Kita akhiri pelajaran ini, sampai disini saja. Kita lanjutkan besok.” ucap pak Kim.

 

13.00 KST~

“Kemana Hiran pergi?” tanya Songrim.

“Entahlah.. aku belum melihatnya.” Jawab Sena

“Dia itu sangat cantik dan berbakat. Apa dia masih belum punya pacar?” tanya Hana polos pada Sena yang mungkin mengetahuinya.

“Setahu aku dia memiliki pacar dulu. Tapi, sekarang mereka sudah putus.” jawab Sena yang kurang yakin.

“Kenapa mereka putus?” tanya Ray polos.

“Aku tidak tahu… ” ucap Sena yang mulai kesal.

“Apa jangan-jangan… mereka putus karena pacarnya selingkuh dengan wanita lain?” tanya Hana mengira-ngira. Mendengar itu Joon pun merasa jengkel.

“Bukan.. itu bukan seperti itu, mana mungkin pacarnya selingkuh dengan perempuan lain? Lagi pula pacarnya pasti sangat mencintainya.” ucap Joon spontan.

“Bagaimana kau bisa tahu? Apa kamu sudah mengenal Hiran sebelumnya?” tanya Yeri bingung.

“Tentu saja tidak. Aku hanya mengiranya saja.” ucap Joon pergi keluar kelas. Semua temannya hanya melihat Joon bingung.

Joon berniat untuk pergi untuk  mencari udara segar. Tapi saat ia melewati ruang latihan ia melihat Hiran disana, yang sedang berlatih dengan keras. Ia pun berbalik untuk membeli beberapa minuman.

“Kau sudah berlatih dengan keras. Sekarang kau boleh beristirahat.” ucap bu Nami.

“Gamsahamida.” Ucap Hiran sambil sedikit membungkuk pada bu Nami.

Hiran  pun duduk dengan bersandar di depan kaca ruangan dance. Dia memegang perutnya yang terasa melilit.

“Ada apa dengan perutku? Sakit sekali.” ucapnya.

Tiba-tiba ada yang menyodorkan kantong plastik yang berisi beberapa minuman dan beberapa makanan. Dia adalah Joon. Hiran pun tidak bisa menolaknya.

“Gomawo..” ucap Hiran. Joon pun duduk di samping Hiran sambil bersandar.

“Walaupun kau harus berlatih dengan keras. Kamu jangan lupa juga mengisi perutmu terlebih dahulu.” ucap Joon yang merasa khawatir.

“Aku tahu itu. Tadi aku hanya lupa.” jawab Hiran.

“Apa itu kau?” tanya Joon.

“Eoh?” ucap Hiran bingung.

“Gadis yang memakai penutup mulut itu?” sambungnya. Hiran hanya diam terpaku. Tidak bisa berkata apa-apa.

“Aku tahu itu kau. Tapi kenapa kau tidak menampakkan wajahmu, dan berlari begitu saja?” tanya Joon. Hiran pun segera bangun dari duduknya.

“Gomawo. Nanti aku akan menggantinya.” ucap Hiran sambil pergi meninggalkan Joon yang masih terduduk. Karena ia bingung harus menjawab apa tentang itu, jadi dia lebih baik pergi.

“Ayo kita ganti dengan makan ramyun bersama di supermarket itu!” teriak Joon pada Hiran yang mulai menjauh.

Hiran hanya berhenti sejenak mendengar apa yang dikatakan Joon. Dan ia pun melanjutkan jalannya. 

Saat pulang, Hiran mendapatkan sebuah pesan singkat. Di dalamnya berisi sebuah ancaman “Kematian ibumu… yang selanjutnya!”. Hiran sangat ketakutan membacanya, sampai ia menjatuhkan ponselnya. Ia segera berlari menemui rumah ibunya.

Saat di depan rumah ibunya Hiran merasa tidak terlalu yakin untuk mengetuknya. Mungkin itu karena sudah lama Hiran tidak tinggal dengan ibunya. Mungkin itu dikarenakan kejadian 2 tahun yang lalu orang tuanya bercerai, dan Hiran lebih memilih tinggal dengan ayahnya. Ibu Hiran bercerai dengan ayah Hiran karena perusahaan ayah Hiran mengalami kebangkrutan. Dan 1 tahun kemudian, ayah Hiran meninggal dunia. Sedangkan sekarang, ibunya sudah menikah dengan pengusaha yang kaya.

Hiran pun mencoba menekan bel rumah itu, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Hiran mulai sedikit panik, ia takut hal terjadi pada ibunya di dalam. Beberapa menit kemudian sebuah taxi berhenti  di depan rumah itu. ibunya pun keluar dengan tubuh yang terlihat lemah. Bukan hanya itu, mata ibu Hiran terlihat bengkak.

“Eomma….” Ujar Hiran lirih.

“Hiran-ah…” ucap ibu Hiran sedikit terkejut melihat Hiran, anak semata wayangnya ada di depannya. Rasanya Hiran sangat ingin memeluk ibunya itu. Tapi ada rasa canggung dalam hatinya yang menghalangi niatnya itu.

“Untuk apa kau datang kesini? Apa kau butuh uang? Untuk sekolahmu? Atau untuk bersenang-senang dengan teman-temanmu?” tanya ibunya

“Ahh… ini, ambil ini. Sekarang pergilah!”ucap ibunya sambil menyodorkan banyak uang pada Hiran.

“Eomma… apa di pikiranmu hanya uang? Berhentilah hidup seperti ini, eomma!” ucap Hiran.

“Yang eomma butuhkan sekarang hanya uang, Hiran.” ujar ibunya itu.

“Apa eomma sama sekali tidak membutuhkanku? Apa eomma sama sekali tidak merasa bersalah pada ayahku?” tanya Hiran yang mulai menangis.

“Hiran-ah… cepatlah pulang! Ini uang untukmu, dan jangan kembali lagi menemui eomma. Cukup menelepon eomma jika kamu membutuhkan uang lagi.” Ucap ibunya sambil memasukkan banyak uang ke dalam saku mantel Hiran. Hiran merasa marah pada ibunya itu, ia hanya bisa meremas uang itu dan pergi sambil menangis.

Saat Hiran sudah pergi, ibunya pun memasuki rumahnya itu sambil menangis terisak. Hiran yang sangat merasa sedih akan sikap ibunya padanya, hanya bisa menangis sambil duduk di halte bis. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna merah berhenti di depannya.

“Hiran! Ayo pulang bersama!” ajak Sena pada Hiran. Hiran yang melihat Sena segera menghapus air matanya itu.

“Ahh… tidak usah. Aku harus pergi bekerja. Terimakasih Sena…” ucap Hiran sambil berusaha tersenyum.

“Yasudah bagaimana jika kita mengantarmu ke tempat kerjamu?” tanya Sena memberi saran.

“Lagi pula Joon tidak akan keberatan sama sekali. Iya kan, Joon?” tanya Sena pada Joon di kursi kemudi. Hiran pun kaget saat mengetahui bahwa Sena bersama dengan Joon. Dia benar-benar tidak menyadarinya. Karena Hiran tidak merasa enak kepada Sena, jadi ia terpaksa menerima tawaran Sena untuk mengantarnya ke tempat kerja. Sena pun segera masuk ke mobil dan duduk di bangku belakang.

“Apa kalian sudah bertukar nomor ponsel kalian?” tanya Sena pada Joon dan Hiran.

“Untuk apa?” tanya Hiran yang sedikt kaget atas pertanyaan Sena.

“Hmm… kalian kan teman sekelas? Masa tidak bertukar nomor sama sekali?” tanya Sena.

“Baiklah, nanti aku akan memberikan nomor ponselku padanya. Kau puas?” ucap Joon kesal.

“Kenapa tidak sekarang saja? Hiran kan sedang disini?” tanya Sena menyarankan.

“Baiklah… mana ponselmu, Hiran?” tanya Joon yang masih terfokus pada jalanan di depannya.

“Ahh… ponselku tadi terjatuh. Jadi aku tidak membawanya.” Ucap Hiran.

“Bagaimana bisa terjatuh? Kau ini teledor sekali?” tanya Joon yang sedikit kesal.

“Lalu kenapa kau yang malah terlihat marah? Kau ini aneh sekali, tadi kamu yang tidak mau memberikan nomor mu pada Hiran.” ucap Sena sambil menatap Joon aneh.

Mobil mereka pun sampai di sebuah cafe tempat Hiran bekerja. Hiran pun segera turun dari mobil itu dan mengucapkan terimakasih pada Sena. Tapi dia sama sekali tidak mengucapkan terimakasih pada Joon. Joon pun hanya bisa menahan rasa kesalnya.

 

Morning, Serin High School, 08.00 KST~

Semua murid terlihat sangat ceria hari ini. Yeri yang baru saja datang langsung menghampiri Joon.

“Joon… apa kau sudah sarapan pagi ini?” tanya Yeri sambil menyodorkan bekalnya pada Joon yang masih terdiam. Beberapa menit kemudian, Joon pun akhirnya menerimanya. Lalu ia berikan bekal itu pada murid lelaki di sampingnya.

Yeri pun sangat kesal akan sifat Joon itu. Sena yang melihat semua kejadian itu hanya bisa menghela nafas. Hiran yang sedari tadi sedang berdiri di atap sekolah dengan sebuah earphone di telinganya. Sepertinya ia sedang menenangkan diri sejenak, sesekali ia memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba Joon pun datang.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Joon sambil menghampiri Hiran.

“Itu bukan urusanmu.” balas Hiran ketus.

“Sudah berapa lama kau bekerja di tempat itu?” tanya Joon yang penasaran.

“Itu bukan urusanmu.” Balas Hiran ketus.

“Apanya yang bukan urusanku? Tentu saja itu-” ucap Joon terpotong.

“Itu apa? Kita tidak punya urusan apa-apa lagi sekarang.” Ujar Hiran sambil menatap Joon.

Tiba-tiba ponsel Hiran berbunyi, itu menandakan ada panggilan masuk. Tapi nomornya tidak dikenal.Hiran pun segera mengangkatnya.

“Yeobseo?”

“Aku akan mencelakai orang yang ada di depanmu!” Hiran begitu sangat ketakutan mendengar perkataan orang itu. Hiran pun menatap Joon dengan ketakutan dan mulai melangkah mundur menjauh dari Joon.

“Wae?” tanya Joon yang merasa aneh dengan Hiran yang menjauh darinya.

“Menjauhlah! Kau tidak boleh mendekat! Kau harus menjauhi aku!” ucap Hiran yang terus melangkah mundur sampai sebuah dinding yang membuatnya berhenti. Joon yang melihat itu, malah mendekati Hiran.

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti. Dan aku tidak akan pernah menjauhimu.” Ucap Joon mantap. Hiran pun berlari meninggalkan Joon begitu saja.

 

Class, 09.45 KST~

Saat Joon kembali ke kelas, ada pak Jim disana.

“Joon… kenapa kamu baru masuk kelas jam segini?” tanya pak Jim.

“Mianhada… saem.” Ucap Joon sambil sedikit membungkung dan segera duduk di tempat duduknya.

“Baiklah… bapak akan mengumumkan bahwa kita akan pergi melakukan MT, setelah kita selesai melakukan ujian kemarin. Kalian bisa bersenang-senang disana.” Jelas pak Jim.

Anak-anak terlihat sangat gembira sekali mendengar berita itu. mereka tampak sangat antusias untuk mengikuti MT itu.

“Baiklah, kalian harus segera bersiap-siap!” ujar pak Jim mengakhiri pengumumannya. Dia pun pergi meninggalkan kelas.

“Bagaimana jika kita pergi untuk berbelanja?” ajak Hana kepada Yeri dan Sena.

“Kajja… bagaimana jika pulang sekolah?” tawar Sena.

“Ngomong-ngomong, kemana Hiran pergi? Apa dia tidak datang kesekolah hari ini?” tanya Yeri penasaran.

“Tadi pagi aku melihatnya di iran. Jadi pasti dia ada di sekolah, tapi entah dimana.” Ucap Hana.

“Kenapa dia selalu menghilang seperti ini? Terkadang aku merasa penasaran apa yang dilakukannya.” Ucap Sena. Yeri yang mendengar itu merasa tambah penasaran Hiran itu siapa sebenarnya. Yeri pun memutuskan untuk pergi ke toilet.

Saat sampai di toilet, ia melihat Hiran berdiri di depan cermin dan sedang memperhatikan sebuah cincin yang di jadikan sebuah kalung yang ia pegang.

“Apa aku harus membuangnya? Mungkin saja Joon sudah tidak menyimpannya lagi.” Ucap Hiran pelan.

“Joon?” tanya Yeri dalam hati.

“Hiran, apa yang sedang kamu lakukan disini?” tanya Yeri yang terlihat seperti baru saja datang. Hiran pun segera memasukkan kalung itu ke saku seragam sekolahnya. Tapi Yeri masih dapat melihat sekilas bagaimana bentuk cincin itu.

“Ah… aku hanya sedikit menenangkan diri.”

“Apa sesuatu terjadi pada dirimu?” tanya Yeri yang benar-benar penasaran.

“Ah, aniia. Aku baik-baik saja.” Ucap Hiran.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Ujar Hiran lalu pergi.

“Hubungan apa yang dimiliki Hiran dengan Joon? Apa aku harus menyelidikinya?” ucap Yeri dalam hati.

“Aku benar-benar harus menyelidiki ini. Dan memastikan mereka tidak ada hubungan apa-apa.” Sambungnya.

 

 Evening, 15.37 KST~

“Yeri… kajja kita berbelanja!” ajak Sena.

“Aku tidak bisa hari ini. Ada sesuatu yang harus aku lakukan.” Ucap Yeri.

“Baiklah. Fighting, Yeri!” ujar Hana sambil tersenyum. Yeri hanya membalas dengan senyuman.

Saat semua murid sudah pulang, Yeri berniat untuk membuka loker Joon untuk memastikan apa Joon memiliki kalung yang sama dengan Hiran atau tidak. Entah dari mana ia bisa mendapat kunci loker Joon dengan mudah. Tidak begitu lama, dia pun bisa membuka loker itu, segeralah mencari kalung itu. Dan ternyata kalung itu benar-benar ada disana. Yeri tampak terlihat kaget perkiraannya benar, ada hubungan antara Hiran dengan Joon.

Tiba-tiba seseorang pun datang ke kelas. Dia adalah Ray. Yeri pun secepat mungkin menutup loker Joon.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Ray curiga.

“Hmm.. Barangku tadi tertinggal, jadi aku kembali kesini untuk mengambilnya.” Ucap Yeri berbohong.

“Lalu untuk apa kau datang kesini?” tanya Yeri yang terlihat sedikit panic.

“Aku hanya ingin mengambil ini.” Ucap Ray sambil memperlihatkan bukunya yang ia tinggalkan di laci mejanya.

“Ahh… yasudah. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa besok.” Ucap Yeri.

“Baiklah… annyeong!” jawab Ray yang masih sedikit merasa curiga.

 

At Yeri House~ 18.00 KST

Terlihat Yeri yang baru saja sampai dirumah dengan membawa beberapa belanjaan.

“Aku pulang~”

“Eoh? Kamu sudah pulang? Bukankah kamu baru saja belanja kemarin?” tanya ibunya yang melihat Yeri menjingjing banyak kantung belanja.

“Aku sedang kesal, eomma….”

“Kesal? Siapa yang membuatmu kesal?” tanya ibunya sedikit khawatir.

“Belum lama ini, sekolah ku kedatangan murid baru. Tapi dia sudah merebut seseorang dariku.” Ujar Yeri jujur.

“Siapa dia? Katakan pada eomma!”

“Hiran! dia masuk Serin karena dia mendapatkan beasiswa. Dan dia sudah berani merebut  Joon dariku.” Jelas Yeri.

“Sepertinya… dia bukan orang yang begitu kaya?! Kau tenang saja. Sekarang kamu jangan khawatir, eomma akan mengurusnya nanti.” Ujar ibunya.

“Jinjja? Gomawo, eomma.” Ucap Yeri sambil tersenyum senang. Setelah berbicara dengan ibunya, Yeri masuk ke kamarnya untuk berbaring sejenak menenangkan pikirannya yang sekarang sedang kacau.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanyanya pada diri sendiri. Tidak beberapa lama ia pun mencoba menghubungi seseorang.

“Yeobseo? Sena?”

“Ah ne. Ada apa Yeri?” tanya Sena diseberang sana.

“Hmm…” Yeri pun menceritakan semua kejadian yang ia selediki selama ini pada Sena. Sena yang mendengarnya hanya bisa terdiam tanpa bergeming sekali pun.

“Sena? Yeobseo, Sena-ah? Kau masih disana?”

“Ah ya. Aku masih disini. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Sena yang baru sadar dari lamunannya.

“Aku akan berusaha memisahkan mereka, bagaimana pun caranya. Tapi aku juga butuh bantuanmu, untuk bisa menjauhkan Joon dari Hiran.” ujar Yeri.

“Bagaimana caranya?” Yeri pun memberitahu rencana apa yang harus ia dan Sena lakukan nanti.

 

Morning, Serin High School. 08.00 KST~

“Annyeong… semua!” sapa Hana yang baru saja memasuki kelas.

“Annyeong, Hana!” balas Ray sambil melambaikan tangan. Tapi saat itu Sena pun datang dengan wajah yang sedikit terlihat murung. Entah mengapa, Ray sangat khawatir pada Sena.

“Sena… apa kau sudah sarapan? Ayo kita ke kantin!” ajak Hana sambil memegang lengan Sena pelan.

“Aku sedang tidak lapar.” Balas Sena dingin.

“Ayolah! Biasanya kau yang paling semangat jika soal makan. Ayolah, ayolah!” ajak Hana lagi sambil menarik-narik tangan Sena pelan. Tiba-tiba Sena pun bangun dari duduknya dan menghentakkan kedua telapak tangannya ke atas meja dengan keras.

“Aikkkhh!!! Kau ini begitu berisik sekali. Kau pergi saja sendiri! Apa kau masih tidak mengerti juga?!” ucap Sena marah. Ray yang melihat itu merasa aneh dengan sikap Sena yang tidak seperti biasanya. Hana pun yang mendapat perlakuan begitu dari Sena, lalu pergi keluar kelas dengan perasaan kesal. Saat itu, Yeri yang baru saja akan memasuki kelas dan melihat Hana yang baru saja keluar kelas dengan raut wajah yang tidak menyenangkan. Ia pun tau Sena lah yang telah membuat Hana seperti itu. Dia pun memasuki kelas dengan tersenyum picik.

Bell masuk pun berbunyi. Tapi Joon dan Hiran masih juga belum datang ke sekolah.

Di sebuah jalan yang lumayan jauh dari Serin High School, terlihat Hiran berlari dengan memakai seragam sekolah lengkap dengan tas punggungnya. Sepertinya ia berusaha secepat mungkin untuk sampai di sekolah. Tiba-tiba Joon pun datang dari belakang dengan mobilnya, dan mencoba mensejajarkan mobilnya dengan langkah Hiran.

“Apa kau butuh tumpangan?” tanya Joon yang sudah membuka kaca mobilnya.

“Tidak perlu!” balas Hiran yang terus berjalan ke depan. Joon pun mencoba mensejajarkan lagi mobilnya dengan langkah kaki Hiran yang terbilang jauh.

“Apa kau yakin? Oh, jam berapa sekarang? Ah… jam 09.35, ternyata.” Goda Joon yang melihat jam tangannya sekilas. Hiran pun terlihat kaget saat mengetahui jam berapa.

“Ayolah… apa kau tidak takut jika kita lebih terlambat datang ke sekolah?” tanya Joon lagi. Hiran pun menyerah. Dan terpaksa menerima tawaran Joon.

“Selama ini kau tinggal dimana?” tanya Joon yang memulai pembicaraan mereka.

“Itu bukan urusanmu!” jawab Hiran cuek. Joon pun tiba-tiba menginjak rem mobilnya begitu saja. Sampai-sampai badan Hiran terdorong ke depan.

“Kenapa kau selalu bersikap dingin seperti ini padaku?! Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Joon sambil menatap Hiran dalam.

“Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi sekarang. Jadi kau tidak perlu mengetahui tentang kehidupanku!”

“Apa kau merasa tenang saat meninggalkanku pada waktu itu?” tanya Joon yang terdengar sedikit parau. Hiran terdiam sejenak saat mendengar perkataan Joon.

“Tentu saja. Karena kau adalah beban bagi hidupku.” Ujar Hiran. Joon pun yang mendengar perkataan itu, merasa seperti pisau tajam yang telah menembus hatinya.

Mereka pun sampai disekolah. Terlihat halaman sekolah yang sudah sepi. Hiran pun turun tepat didepan sekolah, sedangkan Joon pergi begitu saja dengan mobilnya.

Karena Hiran terlambat masuk sekolah. Jadi ia mendapat hukuman untuk membersihkan kelas sendirian selama 3 hari. Hukuman itu pun berlaku dari hari ini.

 

Afternoon, Serin High School. 12.00 KST~

Terlihat semua murid  yang sedang menikmati waktu istirahat mereka. Berbeda dengan Hiran yang sudah melaksanakan hukumannya, untuk membersihkan kelas. Tiba-tiba Yeri pun datang menghampirinya.

“Apa kau juga memiliki kalung ini?” tanya Yeri sambil menunjukkan kalung itu. Hiran pun kaget saat melihat Yeri yang menunjukkan kalung yang sama dengannya.

 

 

To Be Countinue….

Bagaimana kelanjutannya? Apakah hubungan Hiran dengan Joon akan terbongkar? Tunggu episode selanjutnya!

Thanks for read, like, and comment. Dont forget, like and comment please! Pyung~

Iklan

Fanfiction: DREAMS [Ep 3]

Night, 19.00 KST…

Joon yang sedang memperhatikan kalungnya itu dengan sedih. Kalung itu adalah kalung couple yang di pakai Joon dan mantannya dulu. Tapi mantannya meninggalkan Joon begitu saja.

                                      

Flashback~

Afternoon 10.00 KST. At Supermarket~

“Oppa.. mau kemana kita hari ini?” tanya gadis itu.

“Aku mengikutimu saja. Pastinya kita akan bersenang-senang.” ucap Joon sambil tersenyum pada gadis yang di hadapannya itu.

“Ok! Kajja” ajak gadis itu sambil menarik tangan Joon.

“Arraseo..” jawabnya sambil tersenyum bahagia.

Mereka pun jalan-jalan mengelilingi kota Seoul dengan bahagia. Makan ice cream bersama, memainkan beberapa permainan, dan mereka juga berfoto bersama. Mereka terlihat bahagia. Beberapa lama berjalan-jalan mereka mampir ke toko accessories.

“Oppa.. ayo beli itu..” pinta gadis itu sambil menunjuk kalung pasangan yang tergantung di lemari kaca.

“Yang satu akan ku pakai, dan yang satu lagi kau yang memakainya. Kajja oppa…” sambungnya.

“Baiklah, kita beli kita itu.” jawab Joon setuju. Gadis itu hanya tersenyum senang.

Keesokkan hari nya. Joon yang sedang menyiram bunga di halaman rumahnya, tiba-tiba ia menerima pesan dari pacarnya itu.

“Oppa… kita harus bertemu hari ini… akan ku tunggu kamu di café biasa kita bertemu.” isi pesan dari pacarnya.

Joon pun terlihat senang dan segera bersiap-siap. Saat di perjalanan dia menyempatkan membeli bunga untuk pacarnya itu. Beberapa menit kemudian, dia pun sampai. Terlihat pacarnya sedang duduk di meja yang paling pojok. Ia mengenakan dress berwarna pink muda, berhiaskan bunga dengan rambut yang diurai rapi.

“Apa kau sudah menunggu sangat lama?” tanya Joon sambil menyembunyikan bunga yang ia pegang di belakang tubuhnya.

“Oppa.. aku hanya ingin bicara sesuatu tentang hubungan kita.” ucapnya pelan.

“Silahkan, katakan saja.” jawab Joon sambil tersenyum.

“Hmm.. mungkin kita harus putus… perasaan ku tidak enak jika berada di sisi mu.” ucapnya sambil tertunduk.

“Apa yang kau bicarakan? Kau hanya bercanda kan? Kita tidak bisa seperti ini.” Tanya Joon bingung, satu tangannya sambil memegang tangan gadis itu.

“Mianhae.. Joon-ah..” kata gadis itu sambil pergi.

Bunga yang sedari tadi Joon pegang pun terjatuh begitu saja. Joon hanya bisa menunduk sedih.

Flashback off~

Sepertinya Joon sangat merindukan gadis itu.

~***~

 

Morning 08.24 KST. At School..

Semua murid berlatih dengan keras agar mendapatkan nilai yang sempurna dalam ujian semester tahun ini.

“Joon.. ” tanya Yeri ragu.

“Wae?” tanya Joon.

“Mian.. soal yang waktu itu.. aku..” ucap Yeri terpotong.

“Sudahlah lupakan saja. Aku sudah tidak memikirkannya lagi.” ucap Joon.

“Gomawo..” ucap Yeri.

“Untuk apa?” tanya Joon bingung.

“Semuanya..” balasnya.

“Sudahlah.” jawab Joon sambil pergi menghampiri Sena.

“Hei.. Sena, ini aku bawakan kue beras untuk ibumu dari eomma. Aku di suruh membawakannya untukmu.” ucap Joon sambil memberikan kotak makanan yang berisi kue beras itu pada Sena. Sena hanya tersenyum senang menerimanya.

“Gomawo Joon..” ucap Sena sambil menepuk lengan Joon pelan.

“Hmm…” jawab Joon.

“Oiya.. Joon. Untuk kelompok kita nanti kita beri nama apa?” tanya Ray.

“Iya, kita hampir lupa memberi nama. Bagaimana kalau Star-K?” tanya Hana.

“Jangan.. sepertinya aku sudah pernah mendengarnya. Seperti di drama. Drama apa ya?” saran Ray.

“Bagaimana kalau Orange Marmalade?” sambung Ray.

“Kalau itu juga sudah ada, di drama tahun kemarin.” ucap Hana tak mau kalah.

“Sudah-sudah.. ini malah ngomongin drama lagi. Seharusnya kita punya makna tersendiri dalam nama kelompok kita” ucap Yeri yang menasehati.

“Bagaimana kalau Healing Star?” tanya Joon.

“Baiklah setuju!” ucap mereka serempak.

Tinggal 1 hari lagi ujian semester dilaksanakan. Team Healing Star pun sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Mereka selalu latihan dari siang sampai sore, terkadang juga sampai malam.

 

Satu minggu kemudian… 10.00 KST. At Waiting room~

“Hmm.. aku sangat deg-degan sekali.” ucap Sena sambil memegang dadanya.

“Aku juga sampai gugup begini.” tambah Ray yang dari tadi mondar-mandir tak jelas.

Waktunya pun tiba. Team Healing Star pun berhasil membuat semua penonton terkesan dengan penampilan mereka. BoA  juga memberikan komentar yang bagus pada mereka. Mereka pun senang penampilannya berjalan dengan sukses. Beberapa jam berlalu, acara pun selesai.

 

17.00 KST~

“Yeri.. ayo kita pulang bersama!” ajak Songrim memberanikan diri.

“Kajja.. bagaimana kalau kita makan dulu. Aku sangat lapar.” ucap Yeri sambil memegang perutnya.

“Baiklah” ucap Songrim  senang.

 

~***~

 

At Café.  20.35 KST ~

“Kau akan memesan apa?” tanya Yeri pada Songrim.

“Hmm… aku akan mengikutimu.” jawab Songrim.

“Apa kau itu menyukai Joon?” tanya Songrim memberanikan diri.

“Apa kau sudah tahu sejauh itu?” tanya Yeri.

“Ah.. tidak begitu. Hanya saja,  aku sedikit merasakannya.” ucap Songrim jujur.

“Apa sebegitu kelihatannya?” tanya Yeri lagi.

“Tidak, hanya sedikit..” ucap Songrim.

“Menurutmu bagaimana?” tanya Yeri.

“Aku tidak tahu banyak tentang rasa cinta. Tapi cinta bertepuk sebelah tangan itu pasti menyakitkan.” ucap Songrim seolah mengetahui semuanya.

“Kau memang benar. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?” tanya Yeri.

“Hanya saja kau harus melupakan rasa cinta yang kau miliki padanya atau bersikaplah sabar dan terus berusaha.” ucap Songrim memberi saran.

“Baiklah aku akan mencobanya.” ucap Yeri.

“Melupakannya?” tanya Songrim sambil menatap Yeri. Seolah berharap Yeri mengatakan iya untuk itu.

“Bukan, tapi bersabar dan terus berusaha.” ucap Yeri yakin. Dan membuat Songrim menundukkan kepalanya.

 

Kebesokkan harinya… Morning 08.00 KST. At School~

Anak-anak  terlihat sedang asyik mengobrol sampai-sampai terdengar sangat berisik di kelas. Tiba-tiba mereka terdiam, saat bu Nami datang.

“Annyeong… Kalian terlihat segar sekali hari ini. Ibu kesini akan memperkenalkan murid baru di kelas ini. Dia sekolah disini karena dia mendapat beasiswa dari kemenangan mengikuti lomba dance se-Asia. Ini dia… silahkan masuk..” ucap bu Nami mempersilahkan masuk murid baru itu.

Muncullah seorang gadis berambut hitam yang dibiarkan terurai panjang. Memakai seragam lengkap Serin High School. Joon yang melihatnya sangat kaget. Berbeda dengan Sena yang begitu senang melihat temannya bersekolah di Serin.

“Annyeonghaseyo nae ireumeun Hiran. Saya pindahan dari Jepang. Tolong bimbingannya.” ucap Hiran sopan sambil membungkuk.

“Baik.. Hiran silahkan kamu duduk di samping Xinan.” ucap bu Nami mempersilahkan.

Hiran pun menurutinya. Dia berjalan melewati bangku Joon dengan cuek. Sedangkan Joon masih tak percaya, siapa yang berada di kelasnya sekarang. Yeri yang melihat itu kesal. Ia membuka bukunya sampai sobek karena saking kesalnya melihat Joon memperhatikan wanita lain.

“Aku tak menyangka kau benar-benar bersekolah disini?” tanya Sena menghampiri Hiran.

“Apa kau sudah mengenalnya?” tanya Ray di sampingnya.

“Dia teman baik ku, selain Joon.” jawab Sena sambil tersenyum. Joon merasa kaget mendengarkan itu semua. Sekarang Joon yakin bahwa orang yang saat itu menelepon Sena adalah Hiran yang ia kenal.

Bel istirahat berbunyi. Hiran keluar kelas untuk pergi ke toilet. Melihat itu Joon mengikutinya. Ia menunggu Hiran keluar dari toilet. Saat melihat Hiran keluar, segera ia menarik tangannya. Dan membawanya ke atap sekolah.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan!” tanya Hiran.

“Apa yang kau lakukan di sekolah ini?” tanya Joon sambil menatap Hiran yang menatap kearah lain.

“Apa di sekolah ini selalu seperti ini? Murid baru akan menerima pembullyan sebagai tes masuk?” tanya Hiran yang mulai menatap Joon.

“Jawab pertanyaanku!” teriak Joon.

“Apa kau tidak tahu apa ini itu sekolah?” jawab Hiran tegas.

“Akhhh… kau ini benar-benar..” kesal Joon.

“Baiklah… aku akan pergi sekarang. Apa kau sudah selesai berbicara?” tanya Hiran menantang.

“Aku saja tidak mengenalmu. Tapi kau berani-beraninya memegang tangan ku.” sambungnya seraya akan pergi. Tapi Joon kembali menarik tangan Hiran.

“Apa kau benar-benar tidak mengenalku?” tanya Joon sambil menatap Hiran dalam.

“Ah ne… Aku sekarang mengenalmu .. Joon.”  jawabnya sambil membaca tag nama yang berada di baju Joon.

 

~***~

 

Hiran pergi meninggalkan Joon sendiri di atap, sedangkan ia kembali pergi ketoilet. Ya… Hiran pergi ke toilet untuk menangis sejadi-jadinya.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanyanya dalam hati.

Joon kembali ke kelas dengan wajah yang lesu. Tapi tidak terlihat Hiran berada di kelas. Pak Yous pun datang untuk mengajarkan bagaimana mengatur nafas dengan baik, saat bernyanyi. Sampai pelajaran selesai Hiran masih belum terlihat. Akhirnya Joon pun memutuskan untuk menunggunya di depan sekolah.

Hiran baru keluar dari toilet dengan mata sedikit bengkak. Ia pun kembali ke kelas untuk membawa tasnya. Sebelum ia keluar sekolah, ia memakai kaca mata hitamnya. Agar tidak terlihat matanya bengkak. Melihat Hiran keluar menggunakan kacamata, Joon keheranan. Kenapa Hiran memakai kaca mata pada sore hari? Ia pun segera bersembunyi dari Hiran. Joon bertanya-tanya, apa Hiran tinggal sendirian?

 

At Sena house. 19.00 KST ~

“Bagaimana keadaan Joon?” tanya ayah Sena.

“Dia baik, yah.” jawab Sena singkat.

“Kenapa dia tidak pernah datang kesini lagi?” tanya ibunya yang baru datang dari dapur.

“Kami sangat sibuk akhir-akhir ini.” ucap Sena.

“Bagaimana jika nanti kita undang keluarga Joon untuk makan malam disini?” tanya ayahnya.

“Hmm… aku akan membicarakannya pada Joon nanti.” ucap Sena seraya masuk ke kamarnya.

~***~

 

Morning, At school.  09.00 KST ~

Di ruang guru, tepatnya di meja bu Nami. Terdapat banyak bunga. Itu bisa saja dari para murid sebagai fans atau yang lainnya. Pak Jim Sen pun datang. Melihat banyak bunga di meja bu Nami, pak Jim lansung membawanya dan membuangnya ke tempat sampah.

“Untuk apa mereka ini mengirimi bu Nami-ku bunga seperti ini? Membuat ruangan kotor saja.” kesal pak Jim. Tiba-tiba pak Yous datang dan melihat apa yang di lakukan pak Jim tadi.

“Apa yang sedang kau lakukan? jika bu Nami mengetahui ini, mungkin dia akan marah.” tanya pak Yous sedikit mengancam.

“Eh, pak Yous jangan beritahu apapun tentang ini ke siapa-siapa. Apalagi ke bu Nami-ku itu.” pinta pak Jim sambil mengepalkan kedua tangannya di depan wajah pak Yous.

“Baiklah. Tapi, jika pak Jim macam-macam kepada ku. Aku akan melaporkannya.” ucap pak Yous mengancam dan ia langsung pergi sambil tersenyum. Dia merasa sudah berhasil mengerjai pak Jim.

“Ah.. bagaimana ini? ” ucap pak Jim kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya dan pergi.

 

At Class~

“Hiran… bagaimana jika kita nanti pergi untuk berlatih bersama? Aku sudah lama tidak melihat kemampuanmu.” ajak Sena.

“Baiklah… Aku juga ingin tahu, apa kemampuanmu bertambah atau tidak.” ucap Hiran sambil tersenyum.

Joon yang sedang duduk di bangkunya hanya menatap Hiran. Yeri yang melihat itu pun kesal. Ia langsung menghapiri Hiran. Tapi sepertinya ia berniat hanya untuk menghalangi pandangan Joon terhadap Hiran.

“Hiran bagaimana jika kamu sudah berlatih dengan Sena. Kamu pulang bersamaku?” ajak Yeri.

“Ok.. kita akan pulang bersama.” jawab Hiran sambil tersenyum.

Semua murid pergi ke kantin untuk makan siang. Sena yang duduk dengan Hiran makan bersama sambil tertawa bahagia. Sedangkan di meja lain, Yeri dan Hana sedang makan juga. Tapi Yeri sepertinya tidak makan dengan baik, dia selalu melirik aneh pada Hiran. Ia merasa ada hubungan antara Joon dan Hiran.

Joon dan Songrim pun datang sambil membawa piring berisi makanan. Mereka melihat tidak ada bangku yang masih benar-benar kosong.

“Joon, Songrim… Cepat kesini!” panggil Sena sambil menunjuk kursi yang masih kosong di depannya.

Joon pun tersenyum. Lalu menghampiri Sena dan Hiran. Tapi Songrim malah memilih duduk dengan Yeri. Hiran yang melihat Joon di sisinya merasa tak nyaman.

“Aku sudah kenyang. Aku akan pergi sekarang.” ucap Hiran seraya pergi.

“Wae?  Cepat sekali makannya?” tanya Sena heran. Hiran pun hanya tersenyum tipis. Tapi tiba-tiba, tangan Joon menahannya.

“Tak perlu pergi. Anggap saja aku tidak ada!” ucap Joon seperti tahu isi pikiran Hiran. Karena tidak enak dengan Sena, Hiran pun kembali duduk dan melanjutkan makannya.

Waktu pulang pun tiba. Hiran dan Sena yang tadi sudah berencana akan berlatih dance bersama pun menuju practice room sekolah. Dimulai oleh Hiran yang menunjukan dance khasnya dengan sempurna.

“Wah.. kamu memang banyak kemajuan.” ucap Sena memuji.

“Tapi kamu pasti lebih baik dariku..” jawab Hiran sambil tersenyum. Selanjutnya Sena pun menunjukkan kebolehannya dalam dance. Ia melakukannya tidak kalah sempurna.

“Kau sangat hebat Sena-ah..” ucap Hiran sambil bertepuk tangan.

Selesai mereka berlatih. Mereka keluar sekolah dan bertemu Yeri yang sepertinya sedang menunggu Hiran untuk pulang bersama.

“Hei, Hiran! Ayo kita pulang!” ajak Yeri sambil menarik tangan Hiran.

“Baiklah ayo…” jawab Hiran sambil tersenyum.

“Kita duluan ya.. Sena.. Annyeong.” ucap Yeri sambil melambaikan tangan dan pergi. Sena hanya membalasnya dengan senyuman.

 

~***~

 

Morning 08.40 KST. At School~

Di kelas hanya terdapat Joon yang sudah datang. Ia melamun sambil memegang kalung pasangannya itu. Tiba-tiba Hiran datang, dengan membawa tas dan buku paket yang terpisah. Karena terlalu berat, buku dan tasnya pun terjatuh. Sampai-sampai isi tasnya jatuh berserakan. Joon pun menghampiri Hiran.

“Sini, biar ku bantu!” ucapnya sambil meraih satu-persatu buku Hiran.

“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.” jawab Hiran. Joon pun mencoba tidak mendengar apa yang Hiran katakan. Tapi tetap fokus merapikan barang yang jatuh itu.

Saat ia membereskan isi tas Hiran yang tadi terjatuh. Jatuhlah sebuah kalung pasangan yang Joon juga miliki. Joon yang melihatnya pun kaget, kerena ternyata Hiran masih benar-benar menyimpannya.

“Apa kau masih memakai kalung ini?” tanya Joon sambil menunjukkan kalung Hiran. Hiran pun mencoba meraihnya. Tapi Joon malah meninggikan tangannya.

“Berikan itu kepadaku. Apa kau juga suka mencuri?” tanya Hiran yang masih mencoba meraih kalung itu. Tapi Joon malah meninggikan tangannya lagi, agar Hiran tidak dapat mengambilnya. Tiba-tiba Sena datang dan melihat mereka berdua. Saat Joon lengah , Hiran pun secepat mungkin mengambil kalung itu dari tangan Joon.

“Wah.. kalian sepertinya sudah mulai akrab?” tanya Sena sambil menuju bangkunya. Hiran hanya tersenyum kecut untuk menanggapinya.

Saat istirahat Ray pergi ke perpustakaan. Untuk mencari buku, belajar bermain biola. Saat itu, ia melihat Sena juga yang sedang mencari buku.

“Hai Ray. Buku apa yang kau cari?” tanya Sena.

“Buku ini..” ucap Ray sambil menujukkan buku yang ia cari.

“Hmm.. itu benar-benar tipe ku.” ucap Sena sambil tersenyum.

“Benarkah? Baiklah aku akan belajar untukmu.” jawab Ray keceplosan.

“Apa yang kau katakan barusan?” tanya Sena pada Ray yang sedang menutup mulutnya.

 

 

To Be Countinue…

Episode 4 akan di post besok. Terus ikuti cerita selengkapnya. Jangan sampai ketinggalan! Karena cerita ini masih belum sampai ke titik permasalahan. Genre-nya pun masih belum diketahui secara pasti.

Please Like and Comment! Thank u. Pyung~

*author: iamvimpisf

MAIN CAST: Fanfiction ‘DREAMS’

Main Cast:

irene-red-velvet1. Irene Red Velvet sebagai Hiran

 

23179643973_5c622fdf2f_o

2. Minhyuk Monsta X sebagai Joon

 

6aa352302d9c337f69ff88fdfc91749c

3. Jiho Oh My Girl sebagai Sena

 

bts-v-airport.jpg

4. V BTS sebagai  Ray

 

33krystal fx

5. Krystal F(x) sebagai Yeri

 

11906157_1492029537774424 mingyyu

6. Mingyu SEVENTEEN sebagai Songrim

 

indexvgcf

7. SeungHee CLC sebagai Hana

 

index junhoe

8. Junhoe IKON sebagai Xinan

 

187756324-member

9. Hani EXID sebagai Yura

 

b53141a61b06732e26db2d3e5a417c1c

10. Joohoen Monsta X sebagai Tan

 

Itulah Main cast Fanfiction ‘DREAMS’. Semoga kalian senang~ mudah-mudahan bias kalian ada diatas. Oiya ada juga other cast lainnya.

Dan jangan lupa baca FF DREAMS ep 3, yang akan saya post sore ini! Terimakasih. Pyung~

 

Dreams [Ep 2]

Morning 09.30 KST. At  Serin High School~

Pak Yous sebagai seorang guru olahraga menuju ke lapangan untuk menyiapkan pelajaran yang akan dilaksanakan hari ini. Tiba-tiba bu Nami datang menyapanya.

“Selamat pagi pak Yous…” tanya bu Nami ramah.

“Ah.. Ya..” balas pak Yous singkat sambil tersenyum. Tiba-tiba pak Jim Sen datang dari belakang.

“Bukankah dia sangat cantik?” tanyanya sambil menatap kepergian bu Nami pada pak Yous.

“Hmm..” jawabnya singkat.

“Apa yang kau pikirkan jika aku menyukainya?” tanya pak Jim lagi.

“Mungkin dia akan menolakmu.” jawab pak Yous sekenanya.

“Ah.. kau ini memang pandai bercanda. Dia itu tidak akan menolakku. Aku rasa aku berjodoh dengannya. ” jawab pak Jim percaya diri.

“Terserah kau saja.” ucap pak Yous tak peduli.

“Aku akan tetap menyukainya….” ucapnya seraya pergi. Guru  yang melihat itu hanya tersenyum kecut.

Olahraga untuk anak-anak pun di mulai. Olahraga ini lebih semacam permainan. Setiap kelompok harus menemukan bola dengan warna kelompok lawan sebanyak-banyaknya. Mereka di bagi menjadi 2 kelompok. Kelompok biru terdiri dari:  Joon,  Yeri,  Songrim. Dan kelompok merah terdiri dari:  Sena,  Hana,  Xinan.

Kelompok biru pun mulai berpencar mencari bola berwarna merah yang telah di sembunyikan. Begitupun sebaliknya. Tidak beberapa lama Joon menemukan bola merah pertama, dan memasukkannya ke dalam keranjang team nya. Sedangkan team merah malah belum menemukan satu pun bola biru.

Beberapa menit kemudian Yeri menemukan bola merah di atas rak perpustakaan. Karena rak itu terlalu tinggi, dia tidak bisa meraih nya. Tiba-tiba Joon pun datang membantunya. Dan tiba-tiba Yeri merasa jantungnya berdebar sangat kencang sampai-sampai dia sangat gugup.

“Terimakasih..” ucap Yeri gugup.

“Ini hanya hal kecil, tidak perlu berterimakasih.” ucap Joon.

“Kau ini benar-benar lelaki yang sangat dingin.” ucap Yeri sambil tertawa kecil.

“Aku memang seperti ini.” balas Joon cuek.

“Apa kau tidak menyukainya?” sambungnya.

“Ye? Tidak.. aku sangat menyukainya!” balas Yeri bingung.

“Yasudah.. Ayo kembali! Kita harus memenangkannya.” ajak Joon keluar.

“Apa yang ia katakan tadi? Apa dia berusaha mengatakan perasaannya secara tidak langsung?” tanya Yeri dalam hati. Dia pun tersenyum sambil keluar.

~***~

 

At Taman~

“Yak.. itu di sana ada bola biru, ayo kau ambil!” suruh Hana pada Xinan yang hanya membaca buku di sebuah bangku disampingnya.

“Kau ambil saja sendiri! Aku malas.” ucap Xinan yang masih membaca bukunya.

“Itu terlalu tinggi!” gerutu Hana.

“Kau ini benar-benar yeoja yang malas. Ambil saja sendiri. Kau kan masih punya kaki dan tangan?!” jawab Xinan yang sekarang sudah mulai melirik Hana. Dia pun kembali terfokus pada bukunya. Hana pun mencoba mengambil bola yang ada di atas pohon itu dengan meloncat-loncat. Sampai akhirnya bola itu terjatuh dan kaki Hana pun terkilir.

“Aww.. sakit..!” teriak Hana kesakitan.

“Kau ini bagaimana? Kalau tidak bisa jangan dilakukan, merepotkan sekali!” gerutu Xinan sambil membantu Hana bangun. Lalu ia menyuruh Hana duduk di bangku taman. Ia pun mencoba memijat pergelangan kaki Hana yang terkilir.

“Heii.. pria bodoh! Jangan keras-keras. Aku kesakitan!” marah Hana.

“Sudah mau di bantu malah marah. Yasudah kalau tidak mau. Aku akan pergi!” ucap Xinan yang sedikit mengancam dan seraya pergi. Tapi Hana segera menahan tangannya.

“Aku tidak bisa berjalan. Tolong aku..” ucap Hana memelas sambil mengulurkan tangan kanannya. Xinan pun menggendong Hana sampai kelas.

 

      ~***~

 

Afternoon, 14.40 KST~

“1,2,3 Tes tes.. 1, 2, 3.. Oke.. untuk para murid yang ada di sekitar sekolah, harap berkumpul di aula sekarang juga! Karena akan  ada informasi yang amat penting!” ucap seorang guru yang terdengar seperti pak Jim. Semua murid pun berkumpul di aula sekolah. pak Yous pun datang bersama guru lainnya.

“Selamat Sore, anak-anak ku sekalian! Kita berkumpul disini, hanya akan memberitahukan bahwa 1 minggu lagi kita akan mengadakan tes semester. Tapi uniknya pada tes semester kali ini kalian akan diminta untuk membuat kelompok, yang maksimal 6 orang murid. Mengerti??!! Dan yang paling penting juga, yang akan menilai bukanlah para guru disini. Tapi salah satu musisi ternama agensi Korea  terbesar, yaitu BoA dari SM Entertaiment.” jelas pak Jim  panjang lebar.

“Mengerti?! Kalian harus menyiapkannya dengan baik. Fighting!!” lanjutnya.

“Ya..!!!!!” balas para murid sambil bersorak.

 

At Class~

Joon pun berniat pulang. Tapi  tiba-tiba Yeri menahannya.

“Ayo.. kita pulang bersama?” ajaknya sambil tersenyum.

“Aku tidak bisa. Aku harus.. pergi ke suatu tempat.” jawab Joon. Sena yang sedang duduk dibangkunya, merasa aneh dengan sikap Joon dan Yeri akhir-akhir ini.

“Kenapa Yeri bersikap sangat akrab dengan Joon? Tidak biasanya.. apa jangan-jangan Yeri menyukai Joon?” tanya Sena dalam hati. Sena pun yang merasa penasaran segera menghampiri Yeri.

“Bagaimana kita pergi jalan-jalan saja?” tawar Sena.

“Hmm.. Baiklah. Tapi aku tidak bisa terlalu lama, karena aku sudah memiliki janji dengan eomma ku.” jawab Yeri setuju. Tiba-tiba ponsel Sena bordering. Dia pun mengangkatnya.

“Hallo? Ah.. Hana-ah. Apa kau baik-baik saja?” tanyanya pada Hana di telepon. Dikarenakan Hana sakit, jadi dia pulang duluan.

“Hmm.. aku baik-baik saja.. kau sekarang dimana?” tanya Hana di seberang sana.

“Sekolah. Kenapa?” tanya Sena heran.

“Hmm.. apa masih ada  Xinan disana?” tanyanya yang terdengar ragu.

“Tidak ada.. kenapa?” tanya Sena makin tak mengerti.

“Ah.. tidak, yasudah yah.. Makasih Sena..” jawabnya sambil menutup teleponnya.

 

At Hana house~

“Ah kenapa? Padahal aku mau mengucapkan terima kasih padanya. Karena telah menolongku tadi.” gerutu Hana. 1 detik, 2 detik…

“Apa yang tadi akan ku lakukan? Yak..  Hana, apa kau gila? Untuk apa kau berterimakasih pada lelaki yang telah membuat kamu seperti ini?” tanyanya pada dirinya sendiri di depan cermin.

     ~***~

 At Joon House~

Joon pulang membawa ayam goreng kesukaan adiknya, Yoon. Baru saja sampai di depan pintu rumah, dia mendengar suara benda pecah dan teriakan ayahnya. Lalu entah kenapa Joon mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah. Dan memilih untuk berdiri terpaku di depan pintu. Beberapa lama dia berdiri disana, pintu rumah pun terbuka dan ayahnya yang membawa koper besar pun keluar. Ayahnya melihat Joon hanya sekilas, dan kembali berjalan tak peduli. Joon yang melihat itu hanya memendam amarahnya dengan mengepalkan tangannya. Tapi dia mencoba memberanikan diri.

“Bagus! lebih baik kau pergi dari rumah ini. Kau sekarang memang tidak di butuhkan lagi. Kau hanya memberi beban terhadap keluargaku. Dasar kau bajingan!”, ucap Joon pada ayahnya yang sudah agak menjauh dari tempat dia berdiri. Tapi ayahnya tetap mendengar itu. Dan dia berbalik kembali menghampiri Joon.

“Oh… anak ingusan ini, sudah mulai berani bicara seperti itu, kepada ku? Dasar anak kurang ajar tak tahu di untung, persis seperti ibunya!” kata ayah Joon, lalu ia menampar Joon dan segera pergi.

Joon pun langsung memasuki kamarnya. Sebenarnya dia ingin sekali bertemu dengan ibunya, tapi dia rasanya tidak kuat jika melihat orang yang di cintainya menderita. Ia pun menyandarkan tubuhnya pada tembok kamar dan mengambil ponsel dalam sakunya. Ia pun mencoba menelepon seseorang, tapi nomor itu sudah tidak aktif.

“Apa kau benar-benar sudah melupakan ku?” tanya nya kepada diri sendiri.

 

 Di sebuah Apartement…

Seorang gadis sedang memperhatikan sebuah cincin yang sama dengan milik Joon, lalu ia memasangkannya menjadi kalung. Ia teringat kejadian saat di supermarket bertemu dengan Joon.

“Apa kau masih mengingatku?” ucapnya.

 

Morning 08.45 KST. At Class~

“Ok.. teman-teman. Berhubung 1 minggu lagi kita ujian semester. Dan kita harus membuat kelompok. Kalian dapat memilih anggota kelompok kalian masing-masing. Dan jangan lupa maksimal anggota hanya 6 orang.” seru Sena sebagai wakil ketua kelas.

Mereka pun segera mendiskusikan siapa yang akan menjadi anggota kelompok mereka yang tepat.

“Kita akan sekelompok kan?” tanya Yeri pada teman-temannya sambil menatap Joon berharap jawaban ‘ya’ darinya.

“Tapi masalahnya kita hanya 5 orang. Siapa satu lagi?” tanya Hana.

Tiba-tiba pak Yous memasuki kelas dengan diikuti seorang murid laki-laki. Semua murid pun kembali ke tempat duduknya masing-masing.

“Ok, anak-anak dia adalah murid baru di kelas kita. Dia pindahan dari Amerika. Silahkan perkenalkan namamu!” suruh pak Yous.

“Hai semua.. my name is Ray. I come from America… Gamsahamida..” ucap Ray semangat. Pak Yous pun mempersilahkan Ray duduk. Dia memilih duduk bersebelahan dengan Sena.

“Hai.. you’re beautiful..” ucapnya sambil menatap Sena.

“Ah ye..?” jawabnya heran. Hana segera menghampiri Ray untuk memperkenalkan diri.

“Hai..  namaku Hana.” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Ray hanya membalas uluran tangan Hana dengan senyuman khasnya. Songrim pun datang menghampiri.

“Namaku Songrim.. ah ya, apa kau sudah tau tentang tes semester yang akan dilakukan 1 minggu lagi?” tanya Songrim to the point.

“Tidak.. kenapa?” tanya Ray.

“Kebetulan kita masih kekurangan anggota satu orang. Maksimal kelompok adalah 6 orang. Apa kau mau masuk ke kelompok kami?” tanya Yeri.

“Ok, no problem.” jawab Ray setuju.

“Kita akan memulai latihan nanti sore. Aku tunggu di ruang seni.” ucap Joon menanggapi itu seraya pergi.

“Siapa dia? Apa dia tidak suka kepada ku?” tanya Ray kepada Songrim.

“Dia memang seperti itu. Biarkan saja, tapi sebenarnya dia itu baik.” jawab Songrim tanpa ragu. Yeri yang melihat Joon pergi pun berlari menyusulnya. Begitu pun Sena yang melihat Yeri menyusul Joon, ia langsung mengikutinya.

“Hei..  Joon!” panggil Yeri. Joon hanya melirik.

“Kau mau kemana?” tanya Yeri.

“Bukan urusanmu.” jawab Joon dingin sambil pergi.

“Hei!!” teriak Yeri kesal sambil mengikuti Joon kembali.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Joon yang mulai kesal.

“Aku akan ikut denganmu.” ucap Yeri yakin.

“Kenapa?” tanya Joon lagi.

“Karena aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak kita kelas satu.” Ungkap Yeri tanpa ragu.

“Apa yang kau katakan? Kau hari ini sangat aneh. Apa kau sakit?” tanya Joon heran seraya pergi meninggalkan Yeri yang terpaku.

“Apa dia tidak menyukaiku?” tanya Yeri pada dirinya sendiri. Tiba-tiba Sena muncul dari balik pohon. Dia sudah mendengar semuanya.

“Hei..  Yeri! Apa kau benar-benar menyukainya?” tanya Sena. Yeri hanya menangis pelan.

“Dia tidak menyukaiku..” kata Yeri masih menangis.

“Ahh.. Sena, apa kau bisa membantu ku? Bantu lah aku untuk mendapatkan Joon.” tanya Yeri sambil menghapus air mata nya.

“Eoh? hmm..”

“Ayolah…” pinta Yeri.

“Hmm.. Baiklah.” jawab Sena ragu.

“Bagaimana aku bisa melakukannya? Sedangkan aku juga menyukai Joon sejak dia kecil. Apa yang harus aku lakukan?” ucapnya bingung dalam hati.

“Terimakasih, Sena.” ucap Yeri senang sambil memeluk Sena. Sena pun membalas pelukannya dengan ragu.

 

Evening 15.30 KST. Room Art~

Latihan pun di mulai…

Mereka berlatih dengan sangat keras. Terlihat Joon yang sedang melatih vokalnya, Yeri yang sedang melatih bicaranya dalam rapp, Sena yang sedang meregangkan tubuhnya, Songrim yang sedang mencoba mengaransemen lirik lagu, Ray sedang memainkan gitarnya dan Hana sedang memainkan sebuah piano.

“Nanti kita akan mempersembahkan apa?” tanya Sena.

“Mungkin sebuah hal yang unik dan pastinya special.” ucap Hana.

“Kalau itu sudah pasti. Apakah ada yang memiliki ide?” tanya Ray.

“Hmm.. Belum terpikirkan oleh ku. Aku hanya memikirkan semua ciptaan laguku yang belum selesai.” jawab Songrim jujur. Itu disebabkan karena Songrim adalah seorang musisi.

“Bagaimana dengan kau Joon?” tanya Sena kepada Joon yang sedang melamun. Joon tidak menjawab sama sekali.

“Joon..?” panggil Yeri.

“Ah.. maaf. Aku hanya kurang enak badan beberapa hari ini.” ucap Joon.

“Apa kau perlu obat?” tanya Sena khawatir.

“Haruskah aku memberi tahu ahjumma?” sambungnya.

“Aku akan mengambilkan obat untukmu.” ucap Yeri seraya pergi.

“Tidak perlu. Ini sama sekali bukan urusanmu.” seru Joon menahan Yeri. Yeri pun terlihat sedih di perlakukan seperti orang asing oleh Joon. Beberapa saat pun suasana terasa sangat tegang.

“Yak.. kenapa jadi tegang seperti ini?” tanya Ray menenangkan suasana.

“Ayo kita latihan lagi!” ajak Hana. Tiba-tiba ponsel Sena bordering. Segeralah sena mengangkatya.

“Hallo?” tanya Sena.

“Ya Hallo.. Sena-ah. Bagaimana kabarmu?” tanya seseorang di seberang sana.

“Baik.. Hiran-ah, apa kau juga baik-baik saja?” tanya Sena balik. Sena pun keluar kelas agar suaranya bisa terdengar jelas.

“Hiran?” tanya Joon dalam hati.

“Apa Sena mengenal Hiran yang aku kenal?” tanyanya dalam hati.

 

   ~***~

 

 

To be countinue….

Thanks for like and comment~

Don’t forget like and comment! Thank u~

*Episode selanjutnya akan di post hari ini juga. Bersabarlah, karena masih banyak lagi keseruan lainnya. Pyung~

Dreams [Ep 1]


Morning, 08.00 KST~

 

Setiap orang pasti memiliki mimpi dalam hidupnya. Terutama para anak remaja yang masih sangat suka kesenangan. Mereka selalu berusaha mewujudkan mimpinya walaupun terletak tinggi di atasnya. Orang-orang disekitarnya, yang sangat mempengaruhi mereka membuat mereka mendapatkan banyak rintangan yang harus dihadapi. Kenangan masa lalu yang melintas dalam hidup mereka, membuat mereka lebih belajar dan memperbaikinya. persahabatan pun sangatlah penting dalam menggapai mimpi mereka.

Terlihat Yeri yang mengenakan seragam Serin High School sedang menunggu bus di halte. Tak berapa lama bus itu pun tiba. Dia pun segera menaikinya dan menempelkan kartu penumpang ke atas mesin sensor yang terletak di samping pengemudi.

“Aishhh… kenapa bus nya penuh sekali?” gerutunya. Terpaksa dia harus berdiri. Terlihat juga di dalam bus ada Songrim yang sedang duduk di kursi penumpang.

“Hei.. Songrim kau ada di sini juga? ” tanya Yeri.

“Ne, kau… hanya… sendiri?” tanya Songrim gugup.

“Hmm…”

“Kau boleh duduk disini. Aku bisa berdiri.” ucap Songrim yang melihat Yeri tidak bisa duduk karena tempat duduk semua sudah penuh.

“Ah benarkah? makasih..” ucap Yeri sambil duduk dan tersenyum senang.

Di sebelah Yeri ada seorang nenek yang membawa tas sangat besar. Yang sedari tadi terlihat menatap mereka berdua dengan senang.

“Kalian pasangan yang sangat serasi… dan saling memberi perhatian. Aku jadi teringat masa muda ku.” ucap nenek itu.

“Ah… anda salah paham tapi kami hanya…” ucap Yeri terpotong

“Kalian tidak perlu malu-malu begitu. Aku juga merasakannya dulu.” ucap nenek itu memotong.

“Tapi kita memang benar-benar bukan pasangan kekasih. Kita hanyalah teman.” ucap Yeri menyangkal. Bukannya ikutan menyangkal kata-kata nenek itu. Songrim malah memalingkan wajahnya dan tersenyum aneh.

Bus pun sampai di  depan Serin High School. Yeri dan Songrim pun turun. Tidak tau kebetulan atau sengaja, nenek yang tadi pun ikut turun bersama mereka. Karena dia bawa tas yang sangat besar, saat turun dia menyenggol Yeri dengan tas besarnya sampai Yeri akan terjatuh, tapi Songrim dengan cepat menarik tangan Yeri sehingga tubuh Yeri berada dekat dengan tubuh Songrim. Yeri pun merasa sedikit risih engan itu. Yeri pun segera melepaskannya.

Saat akan masuk sekolah mereka berdua melihat Joon dan Sena yang akan memasuki sekolah.

“Heii.. Sena!”  teriak Yeri memanggil.

Sena dan Joon pun melirik kearah Yeri dan Songrim. Yeri pun segera menyusul Joon dan Sena. Songrim terlihat sedih karena di tinggal oleh Yeri.

“Kenapa kau bisa berangkat bersama dengan Songrim? Ya ampun.. Apa kalian…” tanya Sena terpotong.

“Tidak.. tidak.. sungguh! Kita hanya betemu di bus.” ucap Yeri sambil menatap Joon. Tapi Joon hanya menatap ke depan tak peduli.

“Hei Songrim! Cepatlah..” teriak Sena pada Songrim yang masih berjalan lambat di belakang mereka. Mereka pun masuk kelas. Pak Jim pun menerangkan tentang bagaimana menciptakan lagu dengan baik.

 

~***~

 

Afternoon, 11.00 KST~

Saat istirahat, terlihat Joon berada di atap sekolah sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya dia sedang memikirkan ayahnya  yang selalu selingkuh bersama wanita lain dan selalu menyakiti ibunya itu, walaupun ibunya masih selalu ada di sampingnya.

 

Flashback…

Night, 23.00 KST. Joon House~

“Sampai kapan kamu akan seperti ini? Pulang selalu malam, dan terkadang pagi baru pulang. Tak bisakah kamu memikirkan anakmu yang selalu mencarimu?!!”, teriak ibu Joon sambil menangis.

“Itu bukan urusanmu! Pergi saja urus anakmu!” teriak ayahnya yang tak kalah keras.

“Aku tidak peduli jika kau tidak memperhatikan ku. Tapi tak bisakah kau memperhatikan anak-anak kita?!” ucap ibu Joon sambil menangis.

“Aku mohon! Hanya kali ini saja.. Tolong jadilah ayah yang baik untuk anak-anak mu!” sambung ibu Joon sambil memohon dengan berlutut di depan ayah Joon.

“Pergilah.. menyingkirlah dari hadapanku!! Kau selalu menghalangi kehidupan ku!! Aku tidak akan peduli lagi terhadap mu!!!” teriak ayah Joon sambil mendorong tubuh ibunya keras.

Joon yang mendengar itu semua di kamarnya, hanya menahan amarah dengan mengepalkan tangannya. Dia tidak berani  melawan ayahnya yang kejam seperti itu terhadap ibunya. Tiba-tiba suara pintu kamarnya terbuka perlahan, terlihat sosok anak kecil menghampirinya sambil menangis. Ternyata itu Yoon, adik Joon. Dia masih berumur 4 tahun.

“Kak… aku sangat takut.” ucap Yoon pada Joon.

“Kau tenang saja mereka akan baik-baik saja. Kau tidak perlu memikirkannya.” jawab Joon yang berusaha menenangkan Yoon.

“Tapi hyung.. aku takut ibu sangat terluka sekarang, karena ulah ayah yang kejam itu.” ucap Yoon lagi.

“Ibu kan masih mempunyai kita yang akan selalu menjaganya? Bukannya kita itu adalah pelindung bagi ibu? Kau janji kan akan selalu menjaga ibumu dari orang jahat seperti ayah?” tanya Joon sambil memperlihatkan jari kelingkingnya untuk berjanji kelingking dengan adiknya.

“Aku janji kak…” balas Yoon sambil menerima sebuah janji kelingking dengan kakaknya itu. Lalu Yoon memeluk Joon dengan erat.

Rasanya sekarang Joon Hanya ingin menangis. Tapi melihat adiknya yang berada bersamanya sekarang. Ia hanya akan menahannya.

Flashback off~

 

~***~

 

Sena yang baru saja dari kantin, dia kembali ke kelas untuk mencari Joon, tapi tak terlihat juga batang hidungnya. Lalu dia pun segera menghubungi Joon dengan ponselnya.

“Dimana?” tanyanya melalui telepon. Setelah mengetahui Joon di mana, ia pun segera berlari dengan hati yang gelisah.

Di atap sekolah terlihat Joon yang masih berada di sana. Sena pun sampai dengan napas yang masih belum beraturan, karena dia tadi berlari sangat kencang.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Joon heran.

“Hosh.. hoshh.. hosh..” Sena masih tak bisa menjawab dengan kata-kata. Karena dia masih berusaha mengatur napasnya.

“Apa kau baru saja mengikuti lomba lari marathon?” tanya Joon yang masih aneh melihat Sena.

“Hei.. Kau! Jika ada masalah bicarakan dengan baik-baik, jangan seperti ini. Apa kau akan mengakhiri hidupmu begitu saja? ” tanya Sena kesal.

“Apa yang kau katakan? Dasar gadis aneh!” ucap Joon sambil pergi meninggalkan Sena yang masih bengong tak mengerti.

“Jadi dia tidak akan bunuh diri?” tanya Sena pada diri sendiri. Lalu tiba-tiba dia tersenyum senang dan pergi menyusul Joon.

Joon pun kembali ke kelas. Dan disusul oleh Sena. Di kelas sudah ada Yeri,  Hana, dan Songrim.

“Dari mana saja kau?” tanya Yeri yang penasaran.

“Hmm..” jawab Sena sambil tersenyum.

Yeri pun melirik Joon dengan curiga. Dan terlihat juga Songrim yang menatap Yeri dengan sedikit aneh. Bel pulang pun berbunyi, semua murid segera bersiap untuk pulang.

“Joon, ayo kita pulang bersama?” ajak Sena.                                                                                      “Kau pulang saja duluan. Aku ada perlu sebentar!”  jawab Joon lalu pergi. Sena yang melihatnya pun merasa aneh. Begitu pun Yeri. Karena Joon tidak pulang bersamanya. Sena pun pulang menggunakan mobilnya sendiri.

Joon pun berhenti di sebuah supermarket kecil untuk membeli ramyun. Saat  ia akan mengambil ramyun di depannya, tiba-tiba ada seorang gadis juga akan mengambil ramyun yang sama dengannya. Mereka sempat bertatapan, tapi gadis itu memakai penutup mulut hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Joon merasakan hal yang aneh.

“Heii.. ini untukmu saja.” tawar Joon.

Tapi gadis itu malah lari. Melihat ada yang aneh dengan gadis itu. Joon pun berlari mengejar gadis itu, tapi dia sudah menghilang dengan cepat. Joon pun kembali ke supermarket.

Ternyata gadis itu belum pergi jauh dari supermarket. Dia  bersandar di dinding yang berada di gang kecil dekat supermarket itu dan ia segera membuka maskernya. Tapi wajahnya terkena cahaya mobil, jadi tidak terlihat jelas siapa sebenarnya gadis itu.

 

~***~

 

Night, 24.00 KST. Joon house~

Terlihat Joon yang sedang bersandar di kasurnya. Ia sedang memikirkan gadis yang ia temui di supermarket. Dan ia mengingat saat gadis itu mencoba mengambil ramyun yang sama dengannya, gadis itu menggunakan sebuah cincin yang Joon kenali.

Lalu Joon mengambil sebuah kalung yang berupa cincin yang sama dengan gadis itu di laci meja belajarnya.

“Apa kau masih menyimpannya?” tanyanya lirih sambil menatap kalungnya itu.

 

To Be Continue…

Sebenarnya siapa sih gadis itu? penasaran? ep 2 akan segera di post, bersabarlah~

Thank’s for read, please Like and comment. Pyung~